Kamis, 19 April 2012

pendidikan M. Abduh


PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH TENTANG
PENDIDIKAN ISLAM

             Makalah  ini disusun  guna memenuhi tugas :
             Mata kuliah             : STP & KI
             Dosen pengampu  : Dra. Hj. Fatikhah, M. Ag
 

Disusun oleh:
Imam Budiman
(202109062)

Islamic Education
Pekalongan State Institute Of Islamic Studies
2012




BAB I
PENDAHULUAN

Gagasan pembaruan Islam sesungguhnya muncul pada akhir abad 18 dan awal abad 19 Masehi. Dari sekian para pembaru, Muhammad Abduh (1849-1905) adalah tokoh yang monumentaldan paling bersemangat melakukan pembaruan bagi duni Islam. Muhammad Abduh sebagai tokoh pembaharuan dalam Islam patut dikenang dan diteladani, karena ia telah banyak berjuang untuk merobah kebiasaan masyarakat yang sebelum bersikap statis menjadi dinamis.
Muhammad Abduh sebagai seorang pembaharu dalam pendidikan, ada beberapa masalah yang ia temukan dilapangan yang menurutnya menyimpang dan menjadi penyebab kemunduran umat Islam, diantara masalah-masalah tersebut adalah masalah kurikulum, dan  metode mengajar. Dari beberapa permasalahan tersebut, maka dalam makalah sederhana ini penulis akan mencoba untuk membahasnya tentang pembaharuan yang dilakukan Muhammad Abduh terhadap pendidikan Islam di Mesir.











BAB II
PEMBAHASAN

A.     Biografi Muhammad Abduh
    Muhammad Abduh lahir pada tahun 1265 H / 1848 M. Dia di lahirkan di sebuah desa di propinsi Gharbiyyah. Ayahnya bernama Hasan Khairullah. Kondisi keluarganya berasal dari kaum petani, tergolong sebagai keluarga sederhana (usratun basithah). Menurut sebagian riwayat, bahwa intisab ibu berasal daari keturunan bangsa Arab yang punya silsilah secara langsung mengerucut sampai pada keluarga sahabat Umar bin Khatthab.[1]
Pendidikan pertama yang ditekuni Muhammmad Abduh adalah belajar A-lQur'an, dan berkat otaknya yang cemerlang maka dalam waktu dua tahun, ia telah hafal kitab suci dalam usia 12 tahun. Pada tahun1862, ia belajar agama dimasjid Syekh Akhmad di Thanta, semula ia sangat enggan belajar, tetapi karena dorongan paman ayahnya Syekh Darwis Khadar, Abduh akhirnya dapat menyelesaikan pelajarannya di Thanta.
Kemudian ia melanjutkan pelajaran di Universitas Al-Azhar dan menamatkannya pada tahun 1977. Ketika di Al-Azhar ia memperoleh pengalaman yang paling berkesan dari gurunya Syekh Hasan Al-Thawil dan Syekh Muhammad Al-Basyuni, masing-masing sebagai guru mantiq dan balaghah. Selain itu ia sempat berkenalan dan menjadi murid Jamal al-Din al-Afghani. Dari al-Afghani, ia mempelajari filsafat. Dengan kemampuan intelektualnya, memungkinkan ia menulis diharian al-Ahrym sejak awal didirikan.[2]
Di tahun 1877 studinya selesai dial-Azhar dengan mendapat gelaran Alim. Ia mulai mengajar, pertama di al-Azhar, kemudian di Darul Ulum dan juga di rumahnya sendiri. Diantara buku-buku yang diajarkannya ialah buku akhlak karangan Ibn Maskawaih, mukaddimah Ibn Khaldun dan “Sejarah Kebudayaan Eropa” karangan Guizot, yang diterjemahkan al-Tahtawi kedalam bahasa Arab di tahun 1857. Sewaktu AL-Afghani diusir dari Mesir di tahun 1879, karena dituduh mengadakan gerakan menentang Khedewi Taufik, Muhammad Abduh yang juga dipandang turut campur dalam soal ini, di buang keluar kota Kairo. Tetapi di tahun 1880 ia boleh kembali ke ibu kota dan kemudian diangkat menjadi redaktur surat kabar resmi pemerintah Mesir, al-Waqa’i Misriyah. Pada waktu itu perasaan kenasionalan mesir telah mulai timbul. Di bawah pimpinan Muhammad Abduh, Al-Waqa’i Misriyah bukan hanya menyiarkan berita resmi, tetapi juga artikel-artikel tentang kepentingan nasional Mesir.[3]
Dari perjalanan pengalaman yang diperoleh, mendorong Abduh memilih bidang pendidikan sebagai media pengabdian ilmunya dan sekaligus menjadikan pendidikan sebagai tempatnya melontarkan ide-ide pembaharuannya. Dalam melihat dinamika dan wacana yang digagasnya, terlihat demikian jelas pengaruh jamal Al-Din al-Afghani terhadap pemikiran pembaharuan Muhammad Abduh.[4]
B.     Setting Realitas Sosial Masyarakat
Masyarakat Mesir tak ubahnya seperti  masyarakat Muslim lainnya. Ketika Abduh lahir dan dibesarkan di Mahallah Nasr, ternyata kondisi masyarakatnya telah memiliki sejumlah potensi konflik horizontal. Peta sosial-politik pada saat itu telah mengundang pederitaan rakyat, seperti kemiskinan, sosial, kekayaan yang bsertumpuk-tumpuk ditengah penguasa dan pejabat-pejabat istana. Hal ini telah lazim sebagai penggunaanya dengan sebtan iqtha’.
Sosok Abduh ketika melihat kondisi sosio-politik yang berkembang, sebenarnya bukan termasuk kategori seorang yang radikal dan revolusioner. Meskipun dia berperan aktif dalam konstelasi politik yang berkembang, lebih-lebih keterlibatannya dalam pemberontakan Pasya yang tidak dapat dihindarkan. Akhirnya, lawan-lawan politiknya dapat menjadikan Khadefi Taufik sebagai kendali pemerintahan saat itu.
Jadi peta politik yang berkembang di masyarakat diera Abduh  terkesan tidak menguntungkan bagi generasi yang ingin mengembangkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang lebuh kondusif sejalan dengan bernbagai agenda reformasi dalam konteks penataan kembali kehidupan masyarakatnya yang cenderung kurang perhatian terhadap nasib penderitaan dan kemunduran yang mereka alami selama ini.
Dari konteks paradigma sosial-politik yang berkembangkan, terutama yang berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintah pada saat itu ternyata benar-benar tampak adanya ketidakadilan, kesenjangan yang cukup serius antara pihak penguasa dan rakyat, bahkan berbagai segi kehidupan yang lain. Sebagai solusinya yaitu mengedepankan pemikiran dan pembaruan pendidikan.[5]

C.     Pemikiran Pendidikan
Pemikiran Muhammad Abduh sesuai dengan sistem pendidikan yang ada saat itu, sehingga pada abad ke 19 Muhammad Ali memulai pembaharuan pendidikan di Mesir. Pembaharuan yang timpang, yang hanya menekankan perkembangan aspek intelek mewariskan dua tipe pendidikan pada abad ke 20, tipe pertama adalah sekolah-sekolah agama dengan al-azhar sebagai lembaga pendidikan yang tinggi. Sedangkan tipe kedua adalah sekolah-sekolah modern, baik yang dibanguan oleh pemerintah mesir maupun yang didirikan oleh bangsa Asing. Kedua tipe tersebut tidak punya hubungan antara satu dengan yang lainnya, masing-masing berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan dan mendapat tujuan pendidikannya. Sekolah-sekolah agama berjalan diatas garis tradisional baik dalam kurikulum maupun metode pengajaran yang diterapkan.Ilmu-ilmu barat tidak diberikan disekolah-sekolah agama, dengan demikian pendidikan agama kala itu tidak mementingkan perkembangan intelektual, padahal  Islam mengajarkan untuk mengembangkan aspek jiwa tersebut sejajar dengan perkembangan aspek jiwa yang lain.[6]
Sebagai seorang pembaharu (modernis), ide dan pemikiran Abduh mencakup dalam berbagai bidang. Menurut al-Bahiy, pemikiran Abduh meliputi; segi politik dan kebangsaan, sosial kemasyarakatan, pendidikan serta akidah dan keyakinan. Walaupun pemikirannya mencakup berbagai segi, namun bila diteliti dalam menggagas ide pemikirannya Abduh lebih menitikberatkan (concern) pada bidang pendidikan.
Diantara pemikirannya tentang pendidikan dapat dilihat pada penjelasan data historis berikut.
1.         Sistem dan Struktur Lembaga Pendidikan
Dalam pandangan Abduh ia melihat bahwa semenjak masa kemunduran islam, sistem pendidikan yang berlaku diseluruh dunia islam lebih bercorak dualisme. Bila diteliti secara seksama corak pendidikan yang demikian lebih banyak dampak negatif dalam dunia pendidikan. Sistem madrasah lama akan menghasilkan pengetahuan modern, sedangkan sekolah pemerintah mengeluarkan tenaga ahli yang tidak mempunyai visi dan wawasan keagamaan.
Dengan melakukan lintas disiplin ilmu antar kurikulum madrasah dan sekolah maka jurang pemisah antara golongan ulama dan ilmuan modern akan dapat diperkecil. Pembaharuan pendidikan ini dilakukan dengan menata kembali struktur pendidikan di al-Azhar, kemudian disejumlah institusi pendidikan lain yang berada di Thanta, Dassuq, Dimyat, dan iskandariyah.
2.         Kurikulum
a.       Kurikulum Al-Azhar
Kurikulum perguruan tinggi al-azhar di sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu. Dalam hal ini ia memasukkan ilmu filsafat, logika dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum al-Azhar. Upaya ini dilakukan agar out-putnya menjadi ulama modern.
b.      Kurikulum Sekolah Dasar
Ia beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya sudah dimulai semenjak masa kanak-kanak.
c.         Kurikulum Sekolah Menengah dan Sekolah Kejuruan
Ia mendirikan sekolah menegah pemerintah untuk menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan, peridustrian dan sebagainya. Melalui lembaga pendidikan ini, Abduh merasa perlu untuk memasukan beberapa materi, khususnya pendidikan agama. Sejarah Islam, dan kebudayaan Islam.
Di Madrsah-madrash yang berada di bawah naungan al-Azhar, Abduh mengajarkan ilmu Mantiq, Falsafah dan Tauhid, sedangkan selama ini al-Azhar memandang ilmu Mantiq dan Falsafah itu sebagai barang haram. Dirumahnya Abduh mengajarkan pula kitab Thazib al-akhlak susunan ibn Maskawayh. Dan kitab sejarah Peradaban Eropa susunan seorang Perancis yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul al-Tuhfat al-Adaabiyah fi Tarikh  Tamaddun al-Mamalik al-Awribiyah.

D.     Metode
Muhammad Abduh mengubah cara memperoleh ilmu dengan metode hafalan dengan metode rational dan pemahaman (insight). Siswa di samping menghafal sesuatu  juga harus memehami tentang materi yang dihafalnya. Ia juga menghidupkan kembali metode munazharah dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan metode taklid buta terhadap para ulama. Ia juga mengembangkan kebebasan ilmiah dikalangan mahasiswa al-Azhar. Ia juga menjadikan bahasa Arab yang selama ini hanya merupakan ilmu yang tidak berkembang yang dapat digunakan untuk menterjemahkan teks-teks pengetahuan modern kedalam bahasa Arab.
Selain itu Abduh juga telah membuat sebuah metode yang sistematis dan menafsirkan Al-Qur’an yang didasarkan kepada lima prinsip, yaitu:
1.      Menyesuaikan peristiwa-peristiwa yang ada pada masanya dengan nash-nash Al-Qur’an.
2.      Menjadikan Al-Qur’an sebagai sebuah kesatuan.
3.      Menjadikan surat sebagai dasar untuk memahami ayat.
4.      Menyederhanakan bahasa dalam penarsiran.
5.      Tidak melalaikan peristiwa-peristiwa sejarah untuk menafsirkan ayat-ayat yang turun pada waktu itu.[7]

E.     Pengaruh Abduh di Dunia Islam
Pendapat-pendapat dan ajaran-ajaran Muhammad Abduh tersebut mempengaruhi dunia Islam pada umumnya terutama dunia Arab melalui karangan-karangan Muhammad Abduh sendiri, dan melalui tulisan-tulisan murid-muridnya seperti Muhammad Rasyid Ridha dengan majalah Al-Manar dan tafsir Al-Manar. Qasim Amin dengan bukunya tahrr al-Mar’ah, Farid Wajdi dengan buku Ddairat al-Ma’arif dan karangan-karangan yang lain. Syaikh Thahthawi Jauhari dengan Al-Taj al-Murassa’ bi al-Jawahir al-Qur’an wan al-Ulum. Kaum intelek atasan Mesir seperti Muhammad Husein Haykal dengan bukunya hayah Muhammad; Abu Bakar dan sebagainya. Abas Mahmud al-Akkad, Ibrahim A. Kadir al-Mazin, Mustafa Abd al-Raziq, dan Saad Zaglul, bapak kemerdekaan Mesir. bahkan karangan-karangan Muhammad Abduh sendiri banyak di terjemahkan kedalam bahasa Urdu, bahasa Turki, dan bahasa Indonesia.[8]
Pemikiran Muhammad Abduh tentang pendidikan dinilai sebagai awal dari kebangkitan umat Islam diawal abad ke-20. Pemikiran Muhammad Abduh yang disebarluaskan melalui tulisannya di majalah Al-Manar dan A-L Urwat al-Wuqa menjadi rujukan para tokoh pembaharu dalam dunia Islam, hingga diberbagai negara Islam muncul gagasan mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan kurikulum seperti yang dirintis Abduh.[9]











BAB III
PENUTUP

Abduh sebagai seorang ulama pendidikan yang memiliki pemikiran secara makro, yang berarti memiliki wawasan agama, politik dan lain-lain. Berangkat dari keilmuan, dia menggerakkan pembaruan pendidikan guna membebaskan murid, mahasiswa maupun masyarakat, dari keterkungkungan, kebodohan, dan kemunduran.
Abduh telah merombak tatanan pendidikan di lingkungan pendidikan tinggi al-Azhar, mulai dari pemikiran, kurikulum, admistrasi, manajemen, kesejahteraan guru, metodologi, jaringan keilmuan dengan barat sekalipun dan perombakan bangunan fisik, namun demikian, proses pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan tidak revolusioner. Penampilan Universitas Al-Azhar tidak sama dengan tatanan, dan aturan yang sebelumnya. Kiprah yang dimainkan Abduh sebagai “ulama pendidikan” atau “pendidik yang ulama” dapat menghasilkan karya-karya besar, sekaligus mampu menyosialisasikan di lingkungan para ulama (cendekiawan) atau calon ulama Al-Azhar maupun masyarakat Mesir. Sedangkan fungsinya, mendekonstruksi tatanan sistem pendidikan yang konservatif, dan tradisional kearah sistem pendidikan yang modern, demikian pula cara memahami dalam konteks keagamaannya.
DAFTAR PUSTAKA

Harun Nasution, 2001. Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: PT Bulan Bintang
Ramayulis, Samsul Nizar, 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam Mengenal tokoh pendidikan Islam di dunia Islam dan Indonesia, Jakarta : Quantum  Teaching
Tim Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2009. Pendidikan Islam; Dari Paradigma Klasik Hingga Kontemporer, Malang: UIN Malang Press






[1] Tim Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pendidikan Islam; Dari Paradigma Klasik Hingga Kontemporer. (Malang: UIN Malang Press. 2009), hlm. 348-349
[2] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan Islamdi Dunia Islam dan Indonesia, (Ciputat Quantum Teaching. 2005), hlm. 44
[3] Harun Nasution. Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: PT Bulan Bintang.2001), hlm. 52
[4] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan Islamdi Dunia Islam dan Indonesia, (Ciputat Quantum Teaching. 2005), hlm. 44-45
[5] Tim Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pendidikan Islam; Dari Paradigma Klasik Hingga Kontemporer. (Malang: UIN Malang Press. 2009), hlm. 350-352
[7] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan Islamdi Dunia Islam dan Indonesia, (Ciputat Quantum Teaching. 2005), hlm. 48-49
[8] Harun Nasution. Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: PT Bulan Bintang.2001), hlm. 59
[9] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan Islamdi Dunia Islam dan Indonesia, (Ciputat Quantum Teaching. 2005), hlm. 52-53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar